34 KK Pengungsi Asal Besakih Akan Pulang Kampung Saat Galungan

oleh
Pengungsi erupsi Gunung Agung di lokasi penampungan/ Hsg
banner 300250

Bangli, Suarabali .Com – Jelang hari raya Galungan dan Kuningan, sebanyak 34 Kepala Keluarga (147 jiwa) pengungsi asal Banjar Besakih Kawan, Desa Besakih, Rendang, Karangasem, dikawasan kawasan rawan bencana akan berencana pulang kampung pada Hari Raya Galungan 9 hari mendatang. Keputusan tersebut nyatanya telah disepakati pada paruman yang digelar seminggu yang lalu.

Hal ini diakui oleh seorang tokoh adat, Mangku Nengah Kersa ketika dijumpai pagi tadi senin (2/10). Dia menyebutkan, mengenai hari raya Galungan yang jatuh pada tanggal 1 November mendatang, telah dibicarakan dalam rapat bersama pada seminggu yang lalu.

Dalam rapat tersebut, ujar Mangku Karsa, dapat diambil kesimpulan apabila Gunung Agung belum menunjukkan tanda-tanda erupsi hingga Galungan mendatang, maka warga akan pulang kampung untuk melakukan persembahyangan.

“Dengan kondisi saat ini, kemungkinan persembahyangan hanya dilakukan di rumah, Pura Dadia, serta Pura Kayangan Tiga,” sebutnya.

Sementara saat ditanya bilamana Gunung Agung mengalami erupsi sebelum hari raya Galungan tiba? Ucap Mangku Kersa, karma adat sepakat akan jika perayaan Galungan dilakukan hanya di posko pengungsian.

“Harapan kami agar Gunung Agung tetap dalam situasi kondusif saat hari raya Galungan mendatang. Disamping itu, harapan pribadi saya, agar Gunung Agung kembali pada normal,” harapnya.

Mangku Karsa juga menuturkan, dalam rapat paruman tersebut, para warga diminta untuk mempersiapkan segala piranti upacara. Mulai dari mejejahitan, mempersiapkan banten, sesaji, dan lain sebagainya pada hari ke tiga sebelum hari raya Galungan. Sehingga, saat pelaksanaannya nanti, warga tinggal melakukan persembahyangan saja di tempat-tempat tersebut.

“Persembahyangan hanya dilakukan setengah hari saja. Dan usai melakukan sembahyang, sesuai kesepakatan harus langsung kembali ke sini (posko pengungsi GOR Kubu, Bangli).” ucapnya.

Lanjut pria yang telah tiga minggu mengabiskan waktunya di posko pengungsian Kubu, Bangli ini, adapun bagi warga yang tidak bisa ikut sembahyang lantaran berhalangan. Maka mereka akan tinggal diposko untuk menjaga anak-anak.

“Rencananya anak-anak akan diberi pengertian agar mau tinggal di posko. Sebab agak beresiko pulang apabila anak-anak juga diajak,” ujar Mangku Karsa.

Ditempat yang sama, senada dengan Mangku Kersa, salah seorang warga pengungsi bernama Ni Nyoman Mandri mengaku bosan tinggal di posko pengungsian. Ini dikarenakan dirinya tidak bisa melakukan kegiatan sehari-harinya, terlebih menjelang hari raya Galungan awal November mendatang, besar harapannya untuk dapat merayakan di kampung halaman.

“Sampai sekarang (H-9 jelang perayaan Galungan), belum ada menyiapkan apapun untuk keperluan Galungan. Biasanya jika dirumah sudah mulai nyicil-nyicil nyait untuk perlengkapan upacaranya,” ujarnya. (Drn )